Pages

RSS

3.13.2010

Sekolah Lama

Posting ini dibuat karena teringat sekolah lama saya, kebetulan kemarin ada perlu di daerah itu. Saya bersekolah di sana sejak TK sampai SMP. Alasan orang tua saya mendaftarkan saya ke sekolah ini adalah : pertama, karena jaraknya dekat dengan rumah saya ketika itu. Kedua, karena sekolah itu memperbolehkan anak yang belum genap 2 tahun untuk bersekolah. Alasan yang terakhir, karena sekolah itu mengadakan acara makan bersama tiap harinya. Maksud orang tua adalah supaya saya bersemangat makan ( saat itu saya tidak suka makan). Perlu dicatat pada akhirnya rencana gagal total, karena toh saya hanya mengkonsumsi susu sampai usia 8 tahu hehe...

Ada beberapa hal mengenai sekolah ini yang membuat saya terkekeh. Pertama, letak sekolah sungguh ironis, karena terletak di seberang sebuah kelab malam (diskotik). Apakah para siswa menjadi langganan kelab tersebut? Tidak ada yang tahu pasti.

Kedua, saya selalu teringat ekspresi kawan SMA saya ketika saya ajak mengunjungi sekolah tersebut. Tempatnya sangat tidak teratur. Banyak pedagang kaki lima, dan kondisi kebersihannya menyamai pasar ikan. Ramainnya bukan main. Tak jarang orang tua yang menjemput anak mereka berpakaian seadanya, celana pendek dan sandal jepiit rambut acak-acakan, bahkan mengenakan baju tidur.

Ketiga, pada masa saya SD dulu, masih ada ujian EHB dari pemerintah. Di sana, tak jarang murid-murid berlomba-lomba mendapatkan "soal" yaitu soal bocoran yang bisa dibeli dengan sejumlah uang. Saya ingat sat itu, tiap kali menjelang ujian, orang tua akan sibuk mencari cara bagaimana mendapatkan "soal" tersebut.

Apabila mengingat poin terakhir ini, sekarang saya cuma bisa menggeleng-gelengkan kepala. Kebiasaan ini berubah pada saat saya ikut sebuah les di komplek tempat tinggal saya. Kala itu, saya mengikuti les karena takut tidak lulus ujian nasional SD.

Mulai les di tempat itu, guru les saya melarang keras pembelian "soal". Beliau meyakinkan saya bahwa saya biisa memperoleh nilai yang baik dengan kemampuan saya sendiri. Saya pun dibimbing oleh beliau dan belajar bersama teman - teman satu les yang berasal dari sekolah lain. Dari mereka, saya yang saat itu duduk di bangku kelas 6 SD, mendapat banyak wawasan baru dan cara pandang yang berbeda, juga dukungan dan didikan dari guru les saya. Singkat cerita, mulai saat itu saya tidak pernah lagi membeli "soal" danseperti yang beliau katakan, saya berhasil meraih prestasi dengan kemampuan sendiri.

Pada saat ujian akhir nasional (saat itu masi disebut EBTANAS) SLTP, barulah saya mandiri belajar secara total.

Sebenarnya sekolah saya tersebut tidak sepenuhnya tidak baik. Masih ada guru-guru yang begitu penuh pengabdian. Dan sifat kekeluargaan yang sangat kental.

Mungkin sekarang sudah bukan jamannya lagi kali ya membeli "soal", karna yang saya tahu cara penilaian pun sudah banyak berubah dan saya sendiri kurang mengerti perhitungannya. Anyway, posting ini cuma info aja tanpa maksud menjelek-jelekan pihak tertentu.

Saya sendiri tidak pernah menyesal menjadi alumni sekolah tersebut. Bagaimanapun, disanalh saya bertemu teman-teman dan belajar dari awal.


Sent from my BlackBerry�
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

0 comments: