
5 tahun yang lalu ketika aku mengirimkan naskah ke penerbit, itu adalah sebuah keputusan.
Yakin? tentu saja tidak. Darimana datangnya keyakinan atas sebuah naskah amatir untuk memenangkan perlombaan.
Dan pada kenyataannya, memang benar bahwa naskah itu tidak pernah memenangkan perlombaan apapun.
Hingga beberapa bulan kemudian, aku menerima telepon dari penerbit yang menawarkan untuk menerbitkan naskah-ku ...
Dan aku tidak pernah menyesali keputusan dan keberanian untuk mengirimnya, serta harapan yang tidak pernah behenti.
Itu 5 tahun yang lalu
Dan aku selalu percaya bahwa Tuhan selalu punya rencana yang lain.
Seperti saat ini juga.
Aku tidak menyesali keputusan, mengerahkan keberanian dan tidak pernah berhenti menggantungkan harapan.
Keputusanku untuk ikut dalam seleksi masuk PwC adalah dorongan dari kampus. Tapi saat itu, akulah yang memutuskan untuk ikut. Bukan karena diberi atau istilahnya "dipilih" begitu saja.
Keberanianku untuk ikut ke tahap selanjutnya juga bagian dari keputusanku sendiri, bukan karena "kewajiban karena sudah lolos"
Dan walalupun aku tidak menerima berita baik pada awalnya, aku tidak dapat mengingkari betapa aku menginginkannya. Walaupun terkadang menjadi kebingungan dan kehilangan arah, tapi harapan itu tidak pernah berhenti.
Dan kini, Tuhan telah memberikan apa yang telah kuharapkan. Harapan yang tak pernah berhenti itulah yang telah membawa aku sampai disini. Keputusan untuk memberanikan diri dan keberanian untuk berharap. Ini sulit, tapi lebih naik daripada menghindar dan lari, hanya untuk melindungi apa yang ada.
"Dantang dan ketuklah pintu" ... tetapi "Kapan pintu terbuka ? Tidak ada yang dapat memastikannya ..." Tapi paling tidak, sudah datang dan sudah mengetuk pintu.
Cheers :D

0 comments:
Poskan Komentar